Dakwah Mencegah Kesehatan mental Melalui
PSIKOTERAPI
(Perspektif Dakwah dan Komunikasi
Islam)
Oleh: Dr. Syarifudin, M.Sos.I
|
*Pendahuluan, *Latarbelakang, *Pembahasan:
Analisis Penyebab Penyakit
mental, Metode berdakwah melalui pendekatan
psikoterapi, Strategi Dakwah dalam mencegah penyakit jiwa (mental).
*Kesimpulan, *Daftar Bacaan
|
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Jika
menggunakan UUD Nomor 23 tahun 1999 no. 3/76 tentang kesehatan secara lahir
batin maka dalam peradaban moderen ini banyak manusia yang sakit jiwanya.[1] Dalam
penelitian kartino kartono ada 9 jenis gangguang kejiwaan manusia. Gangguan
kejiwaan tersebut terdiri dari; Histeria, Disosiasi kepribadian,
Psichastenia, Pobia kompulasi, Hipocondria, Neurasthenia, Neurosa Kecemasan,
Psikomatik, hipertension, effort syndrome,[2] dan takut
miskin serta turun jabatan.
Selain
dari temuan Kartini Kartono tentang penyakit mental manusia tersebut American
Psychiatri Association (APA) juga menemukan gejalan penyakit mental yang
dialami oleh masyarakat moderen antara lain; retardation (hambatan
mental anak), Delirium (gangguan berpikir), Schizorenia (prasangka
buruk yang berlebihan), Gangguguan kecemasan, Gangguguan Sematoform (anak yang
tidak mau merawat orang tuanya yang sudah tua renta), Gangguan disosiatif (hilang
ingatan sering lupa), gangguan parafilia (penyimpangan seksual/suka
selingkuh), gangguan isomnia (sulit tidur akibat pikiran),[3] dan
gangguan sosial (senang lihat orang lain susah).
Penyakit
sosial sepertian gangguang mental lainnya yang tidak kala pentingnya adalah
penyakit dari faktor internal dan
eksteral lingkungan masyarakat. Persoalan Internal; Suka menyalahkan orang lain akibat banyaknya masalah yang sulit diselesaikan secara pribadi dan sulit
diselesaikan secara bersama, Kurangnya kemandirian masyarakat, akibat pola
pikir yang masih sangat terbelakang, sehingga sulit menyelesaikan permasalahn
pribadi, Meningkatnya persoalan pribadi yang berimplikasi pada masalah
kelompok, komunitas, dan massa sehingga
melahirkan konflik sosial.[4] Tingkat perceraian makin meningkat, akibat lemahnya ketahanan menata rumah tangga. Rumah tanggah diliputi banyak masalah
akibat eknomi mulai sulit, Banyak orang yang sulit diatur kearah
yang lebih baik, akibat sakit mata hati, jiwa dan alam pikirannya dikuasai
napsu materialisme, hedonisme, dan
kapitalisme
yang berlebihan.[5] Dan peredaran informasi negatif lebih mendominasi alam pikiran
masyarakat, sementara jumlah penyuluh agama sebagai dokter mental sangat tidak berimbang.
Persoalan eksternal; Penjajahan imprealisme
budaya global lewat media massa dan media cetak, mobilisasi migran lokal
semakin tinggi, mobilisasi mall, supermarket, sebagai bentuk penjajahan
kapitalis semakin tinggi sehingga orang dihargai karena kekayaannya bukan
akrena akhlaqnya, stabilitas politik luar negeri,[6] dalam
negeri yang berdampak pada politik daerah yang mebuat regulasi interaksi sosial
semakin tidak menentu, Jumlah pikiran negatif dari luar banyak beredar di media
massa dan media cetak,[7] sehingga
semakin tinggi wacana negatif yang beredar di tengah masayarakat dan sampah
pikiran materialisme yang menjajah pikiran masyarakat di media masa
sehingga tingkat kebutuhan rumah tangga semakin tinggi sementara alat
mendapatkan materi sangat terbatas, hal ini melahirkan destruksi sosial (kerusakan
tatanan sosial) yang sangat tinggi.
Dari problematika penyakit mental masyarakat modern
tersebut dalam tulisan ini akan memberikan cara pandang dan metode memahami
kehidupan dengan pendekatan psikoterapi Islam melalui dakwah dan komunikasi. Dampak perubahan sosial yang kurang terkendali ditandai oleh perubahan cara
berpikir, gaya hidup, dan pola makan adalah sebuah keniscayaan. Tapi dalam perspektif psikoterapi Islam ada aturan dan
tatatertib sebagai panduan serta juknis Al-Quran dan Sunnah sebagai standar
opersional hidup manusia yang menginginkan kenyamanan, kebahagiaan,
kesejahteraan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Panduan inilah yang
akan dipublikasikan di tenga masayarakat moderen untuk mencegah terjadinya
destruksi sosial yang berlebihan. Makalah ini berupaya menelaah perubahan
sosial untuk mencegah maysarakat dari kerusakan jiwa dan mental yang
mempercepat kematian manusia itu sendiri lewat fasilitas teknologi yang
ditemukan untuk kebutuhan hidupnya.
Karena
luasnya persoalan di atas maka tulisan ini lebih fokus menjelaskan apa penyebab
penyakit
mental, bagaimana metode berdakwah melalui pendekatan psikoterapi, dan strategi apa yang dilakukan oleh tenaga penyuluh agama dalam berdakwah untuk mencegah penyakit jiwa(mental) di
tengah masyarakat.
[1]Sattu Alang, Terapi Mental Menuju Kesehatan Islam
(Cet.I; Makassar: CV. Berkah Utami, 2007), h. 32.
[2]Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam
Islam (Cet. VI; Bandung: Mandar Maju, 2009), h. 94-140.
[3]Kartini Kartono, Patologi Sosial Gangguan Kejiawaan jilid
III (Cet. II; Jakarta: Rajawali Press, 2007), h. 142.
[4]Rupert Brouwn, Prejudice is Social Psycology
diterjemahkan oleh Helly P. Soecipto dengan judul: Menangani Prasangka dari
Perspektif Psikologi Sosial (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h.
6.
[5]Syarifudin, Dampak Globalisasi Dalam Merubah Pola hidup
masyarakat Asia Tenggara Makalah dipresentasikan didepan Mahasiswa Fakultas
Dakwah dan Komuniaksi UIN Makassar dan UIN Jakarta 2010.
[6]Syarifudin, Imbas Globalisasi Dalam Merubah Pola
hidup Masyarakat Studi kasus di Kota Makassar Makalah dipresentasikan
didepan Mahasiswa Program Doktor Jurusan Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin
Makassar dan UIN Jakarta 2011.
[7]H. Ahmad Sihabuddin, Komunikasi Antar Budaya (Cet. II;
Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 6

Tidak ada komentar:
Posting Komentar